Original AI-generated book
Pelana Keempat di Ujung Karavan
About this book
Tahun 1912, di tepi selatan Rub' al Khali, seekor unta pemandu bernama Rihaan berjalan masuk ke oasis Shisr tanpa penunggang dewasa. Di punggungnya hanya ada dua anak yang seharusnya tidak pernah bersama: Hakim, sebelas tahun, putra saudagar mutiara dari Muscat, mengenakan jubah badui yang bukan miliknya; dan Aisha, dua belas tahun, putri pemandu karavan suku Al Mahra, memeluk sebuah buku besar perdagangan yang tak bisa ia baca sehuruf pun. Karavan yang berangkat dari sumur Shisr dua puluh tiga hari sebelumnya membawa empat puluh unta, dua belas orang, dan sebuah pelana keempat yang selalu dipasang tetapi selalu kosong. Kini karavan itu tidak ada. Penjaga sumur Shisr, Bakhita bint Sayf, hanya punya air yang bisa dihitung dengan jari, dan tidak ada yang mau mengirim rombongan penyelamat ke gurun tanpa arah yang pasti. Maka dua anak itu harus bercerita — dan cerita mereka bergerak mundur, malam demi malam, hari demi hari, dari kembalinya mereka sampai pagi keberangkatan. Setiap langkah ke belakang menjelaskan satu benda yang salah: jubah siapa itu, mengapa halaman-halaman buku besar penuh tulisan seorang anak, mengapa sebuah sumur tertutup pasir bukan karena angin, dan siapa yang seharusnya menunggangi pelana keempat. Sementara itu, di padang yang jauh, air terus menyusut bagi mereka yang menunggu. Ini kisah tentang seorang anak kota yang harus belajar membaca gurun, seorang anak gurun yang harus belajar membaca kertas, dan tentang bagaimana ingatan dan angka bisa saling menyelamatkan sebelum kirbat terakhir kosong.
Book details
- Genres:
- Historical Fiction, Petualangan Anak, Misteri
- Language:
- id
- Published:
- 2026-07-29
- Content rating:
- PG